27 Februari 2014

Ajari Aku Sabar Lebih Dari Kata Sabar

Seorang pahlawan berjuang hingga berdarah-darah untuk hal yang ia cintai, iya untuk negaranya sendiri. begitu pun aku, berdarah-darah menjadi pahlawan untuk perasaan ku sendiri. tapi darah yang mengucur dari ku tak pernah sama, darah yang mengucur dari ku bukan darah yang merah karna keberanian, bukan keluar untuk hal yang di terima banyak orang, darah ku hanya berupa air bening yang keluar dari sela-sela mata ku. iya itu darah, darah buah kesakitan yang menyatu bersama rindu dan menunggu. 

Hal paling begitu menjengkelkan, hal yang penuh ketidak pastian, hal yang penuh sendu dan kesakitan, hal yang sangat-sangat sulit untuk jadi kenyataan. hal yang membuat aku bertahan dan berjuang hanya untuk penolakan!!

Perjuangan yang di lakukan pahlawan demi negri ini saja sering di lupakan dan tidak dihargai, lalu bagaimana dengan perjuangan ku? mungkin lebih tragis dari pada itu, lebih pedih dari pada itu dan lebih mengurai tragis.

Jika saja sabar ku bisa ku urai dengan kalimat, mungkin tak akan ada pena yang mampu menuliskannya, bahkan tak ada tinta yang bisa mengisi pena itu, sekalipun oleh air laut dari segala samudra di dunia ini. sabar ku tak terjabarkan, dengan rumus matematika atau kimia bahkan fisika mana pun. sabar ku pun tak terdefinisikan dengan untaian kata dari bahasa dan tulisan apa pun. sabar ku sudah tak mampu di hitung, karna tak ada angka yang mampu membilangkannya.

Tapi, sabar yang seperti itu tidaklah cukup untuk sekedar membuat mu sedetik menatap ku. menunggu ku sangat begitu sia-sia, tapi itu lah menunggu ku, dengan sabar yang tak pernah bisa untuk kau indahkan.

"Menunggu mu seperti mengulur sabar dengan harapan. tak berujung...." (@Rosalina_WS)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar